Konsultan Psikologi Profesional & Tersertifikasi

Easy Consulting - Konsultan psikologi profesional dengan layanan konsultasi komprehensif untuk individu, sekolah, dan perusahaan dengan pendekatan humanis, ilmiah, dan aplikatif.

Konsultan Psikologi Profesional & Tersertifikasi

Easy Consulting - Konsultan psikologi profesional dengan layanan konsultasi komprehensif untuk individu, sekolah, dan perusahaan dengan pendekatan humanis, ilmiah, dan aplikatif.

Apa itu Learned Helplessness

Learned Helplessness (Kepasrahan yang Dipelajari) adalah sebuah kondisi psikologis ketika seseorang, baik secara individu maupun kelompok, merasa bahwa mereka tidak memiliki kontrol atas situasi sulit yang sedang dialami, sehingga mereka berhenti berusaha untuk mengubah atau memperbaiki keadaan tersebut, bahkan ketika peluang untuk keluar atau mengubahnya sebenarnya terbuka lebar.

Konsep ini pertama kali diteliti oleh psikolog Martin Seligman dan Steven F. Maier pada akhir dekade 1960-an melalui eksperimen perilaku. Dari sudut pandang psikologi modern, learned helplessness terjadi karena adanya proses pembelajaran masa lalu tempat usaha seseorang berulang kali gagal atau menemui jalan buntu. Akibatnya, terbentuk pola pikir atau keyakinan (cognitive bias) bahwa “apapun yang saya lakukan, hasilnya tetap tidak akan berubah.”

3 Komponen Utama Learned Helplessness

Kondisi ini umumnya ditandai oleh tiga defisit utama:

  1. Defisit Motivasi: Enggan atau malas mencoba kembali karena menganggap usaha tersebut sia-sia.

Setelah berulang kali mengirimkan belasan lamaran kerja dan melampaui berbagai tahapan wawancara namun selalu berakhir dengan penolakan tanpa kejelasan, Rian kini berada di titik di mana ia berhenti membuka portal lowongan kerja sama sekali. Rekan-rekannya kerap menginformasikan adanya posisi kosong yang sangat relevan dengan keahliannya, namun Rian hanya menggelengkan kepala dan enggan untuk mencoba melamar lagi. Bagi Rian, menyusun kembali berkas lamaran dan bersiap wawancara hanya akan membuang waktu dan energinya secara sia-sia, karena ia merasa hasil akhirnya pasti akan tetap berujung pada penolakan.

  1. Defisit Kognitif: Ketidakmampuan untuk menyadari atau memanfaatkan peluang positif yang ada di depannya.

Dina sudah bertahun-tahun merasa terjebak dalam posisi pekerjaannya saat ini dan meyakini bahwa ia tidak akan pernah bisa naik jabatan atau mengembangkan kariernya di tempat lain. Ketika perusahaan membuka program beasiswa pelatihan sertifikasi gratis dan kesempatan transfer internal ke divisi yang lebih prospektif, Dina sama sekali tidak mendaftar. Pola pikirnya yang sudah terlanjur tertutup membuat ia tidak mampu melihat kesempatan tersebut sebagai jalan keluar yang nyata; ia memandang pengumuman itu seolah-olah bukan ditujukan untuk orang seperti dirinya dan melewatkan peluang emas tersebut begitu saja.

  1. Defisit Emosional: Timbulnya kecemasan, keputusasaan, stres kronis, hingga depresi.

Setiap kali membayangkan masa depan kariernya atau dihadapkan pada tugas-tugas baru di kantor, Maya langsung merasakan dada sesak, jantung berdebar kencang, dan kecemasan yang luar biasa. Pengalaman kegagalan beruntun di masa lalu telah mengikis habis rasa percaya dirinya, memicu stres kronis yang berkepanjangan hingga berkembang menjadi perasaan putus asa yang mendalam. Rasa tidak berdaya ini tidak hanya mengganggu fokus kerjanya sehari-hari, tetapi juga membuatnya sering mengalami ketegangan emosional dan gejala depresi ringan yang membuatnya merasa hampa. 

Contoh dalam Kehidupan Nyata (Konteks Aktual & Faktual)

1. Konteks Dunia Kerja Modern & Pasar Kerja Era Digital (Corporate & Career)

Fenomena Quiet Quitting dan Keputusasaan Pelamar Kerja: Banyak pencari kerja muda yang telah mengirimkan ratusan surat lamaran pekerjaan melalui berbagai platform digital, namun berulang kali ditolak atau diabaikan (ghosting) oleh sistem filter AI rekrutmen. Setelah mengalami penolakan tanpa umpan balik yang jelas secara beruntun, mereka bisa mengalami learned helplessness. 

Akibatnya, mereka berhenti melamar pekerjaan atau hanya bekerja “seadanya” (quiet quitting) karena merasa bahwa kualitas diri dan usaha keras mereka tidak akan pernah mempengaruhi hasil seleksi kerja.

2. Konteks Pendidikan & Pembelajaran (Academic Setting)

Hambatan pada Mata Pelajaran Tertentu (misal: Matematika / Coding): Seorang siswa yang berulang kali mendapatkan nilai buruk dalam mata pelajaran seperti Matematika atau Pemrograman Komputer, meskipun sudah belajar keras dan mengikuti les tambahan, dapat mengembangkan learned helplessness. 

Ia menyimpulkan bahwa dirinya “tidak berbakat”. Ketika dihadapkan pada ujian atau tugas baru di masa depan, siswa tersebut akan langsung menyerah tanpa berusaha mengerjakan, padahal materi ujian kali ini mungkin jauh lebih mudah.

3. Konteks Hubungan Interpersonal & Kesehatan Mental (Domestic/Relationship)

Dinamika Hubungan Abusive (Kekerasan Dalam Rumah Tangga / Toxic Relationship): Seorang pasangan yang terus-menerus mengalami manipulasi emosional atau kekerasan verbal/fisik berulang kali merasa usahanya untuk memperbaiki hubungan atau mencari bantuan tidak membuahkan hasil. 

Seiring waktu, korban meyakini bahwa mereka tidak punya kekuatan untuk lepas dari hubungan tersebut, sehingga memilih bertahan dalam bahaya meskipun akses untuk keluar atau meminta pertolongan sebenarnya tersedia.

4. Konteks Sosial & Politik

Apatisme Pemilih (Voter Apathy): Masyarakat yang merasa sistem politik atau kebijakan publik di lingkungannya tidak pernah berubah meskipun pergantian kepemimpinan terus terjadi. Perasaan bahwa suara mereka “tidak pernah didengar” memicu learned helplessness skala sosial, yang membuat masyarakat enggan berpartisipasi dalam pemilu atau kegiatan kewargaan.

Cara Mengatasi Learned Helplessness

Mengubah Pola Pikir (Reframing Attribution Style): Mengubah pola pikir dari internal-permanent (“Saya yang tidak berguna dan ini tidak akan berubah”) menjadi external-temporary (“Saya hanya menghadapi situasi sulit dan ini bisa diperbaiki”).

  • Target-Target Kecil (Micro-Goals): Menyusun keberhasilan-keberhasilan kecil (small wins) untuk membangkitkan kembali rasa memegang kendali (sense of agency).
  • Terapi Psikologis: Menggunakan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) untuk mengenali dan merestrukturisasi pola pikir destruktif.

Kesimpulan

Learned helplessness merupakan kondisi psikologis ketika seseorang atau kelompok merasa tidak memiliki kendali atas situasi sulit akibat pengalaman kegagalan atau tekanan yang berulang di masa lalu. Pola pikir ini memicu keputusasaan kognitif, motivasional, dan emosional, sehingga membuat individu berhenti berusaha meskipun peluang untuk berubah atau keluar dari masalah sebenarnya terbuka lebar. Fenomena ini tercermin nyata dalam dinamika modern, seperti keputusasaan pencari kerja (quiet quitting), hambatan belajar pada siswa, hingga apatisme sosial.

Meskipun dapat menghambat pertumbuhan potensi diri dan performa organisasi, kondisi ini bukan sifat permanen dan dapat diatasi secara bertahap. Melalui pendekatan berbasis bukti seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), restrukturisasi pola pikir (reframing), serta penetapan target-target kecil (small wins), individu dapat membangun kembali rasa memiliki kendali (sense of agency) dan kepercayaan diri untuk mencapai kesejahteraan mental serta kinerja yang optimal.

Semoga bermanfaat.  – Easy Consulting –

Apa Itu Learned Helplessness?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *